
Segenap jamaah Islamic menghadiri kegiatan istighosah dan kajian pagi di Masjid Islamic Centre Jawa Tengah bersama Ketua Takmir, Dr. KH. Multazam Ahmad, M.A.. Acara diawali dengan istighosah bersama yang penuh kekhusyukan, memohon ampunan dan perlindungan Allah SWT agar umat dijauhkan dari berbagai bencana dan ujian.
Dalam kajiannya bertema “Menolak Bencana dengan Doa dan Upaya”, KH. Multazam mengawali pembahasan dengan Surat Al-Kafirun, menegaskan pentingnya kemurnian tauhid dan keteguhan iman dalam beribadah. “Surat ini mengajarkan agar ketaatan kita murni karena Allah, tidak bercampur dengan kepentingan duniawi atau sikap berpaling dari kebenaran,” tutur beliau.
Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa ketaatan kepada Allah SWT dibangun atas tiga sumber utama, yaitu Al-Khauf (rasa takut kepada Allah), Ar-Raja’ (rasa harap akan ridha dan rahmat-Nya), dan Al-Mudawamah (istiqamah dalam beramal).
Dalam menjelaskan mudawamah, KH. Multazam menyoroti fenomena masyarakat yang mudah goyah dalam beribadah. “Sekarang ini muncul ungkapan, lebih baik bekas orang brutal daripada mantan ustadz. Artinya, lebih baik orang yang sungguh-sungguh berhenti dari maksiat lalu istiqamah shalat lima waktu, daripada yang dulu taat tapi kini meninggalkannya,” ungkap beliau.
Menurut KH. Multazam, amal yang dilakukan terus-menerus meskipun kecil lebih dicintai Allah SWT daripada amal besar tapi terputus. “Istiqamah menjaga ibadah adalah benteng diri dari musibah dan jalan menuju keberkahan,” tambahnya.
Memasuki pembahasan utama, beliau mengulas bencana dan ujian hidup dengan menafsirkan Surat Al-Isra ayat 59, yang berkaitan dengan kisah Sayyidah Aisyah RA. Ketika Aisyah melihat mendung dan berkata, “Ya Rasulallah, mengapa orang-orang bergembira melihat mendung?”, Nabi SAW menjawab, “Siapa yang dapat menjamin bahwa mendung itu tidak membawa tentara Allah berupa air dan angin yang bisa menjadi bencana?”
KH. Multazam menegaskan, mendung, hujan, dan angin adalah tanda kekuasaan Allah yang bisa menjadi rahmat atau azab, tergantung pada kondisi iman dan amal manusia.
Dalam bagian akhir kajian, KH. Multazam menyinggung Surat As-Sajdah ayat 21 sebagai dasar solusi dalam menghadapi berbagai bencana, baik angin kencang, tanah longsor, kebakaran, maupun banjir. Beliau menjelaskan bahwa Allah menurunkan sebagian siksaan kecil di dunia agar manusia mau kembali dan bertaubat sebelum datang azab yang lebih besar di akhirat.
“Allah berfirman bahwa Kami timpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang besar (di akhirat), supaya mereka kembali (ke jalan yang benar). Maka solusi menghadapi bencana bukan sekadar fisik atau anggaran, tapi kesadaran untuk kembali kepada Allah — dengan doa, istighfar, dan memperbaiki amal,” tegas beliau.
Kajian ditutup dengan ramah tamah dan diskusi santai bersama jamaah dalam suasana hangat dan kekeluargaan. Para jamaah berdiskusi ringan tentang pentingnya menjaga lingkungan, memperkuat iman, serta memperbanyak doa agar dijauhkan dari berbagai bencana.
Acara berakhir dengan doa bersama, memohon keselamatan bangsa, keteguhan iman, serta istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT.
(Kang Saif)
